Senin, 10 Juli 2017

Lupa?

Lupa?

Senin,
Pagi ini aku ke kampus karena mendapat amanah sekaligus hobiku. Ya, ini sebuah kegiatan yang mendarah daging di hidupku. Namun, itu sebuah hal biasa untukku. Tentu kau tahu maksudku. Jika kau tak tahu, mungkin sepenuhnya kau belum mengenalku. Kita harus lebih mengenal satu sama lain.
Aku teringat kita memiliki janji untuk menuju ke suatu tempat. Tentu tempat itu membuat imajinasiku semakin terbakar. Apalagi kau mengajak teman-temanmu yang membuatku semakin tak bisa memadamkan otakku yang terbakar akan imajinasi itu.
Kita semua memandang sebuah tembok dilapisi oleh secarik kain yang menampilkan gambar bergerak. Aku menyukai gambar bergerak itu. Entah mengapa aku bisa. Ada dua kemungkinan. Pertama, karena aku bisa bersamamu. Kedua, karena sejak dulu aku mengidolakan tokoh utama yang kita saksikan bersama. Mungkin juga dua hal itu kurasakan.

Kita semua menelusuri lorong-lorong usai menyandarkan punggung di kursi yang nyaman. Akan tetapi, itu membuatku dan mungkin membuatmu terlupa akan sesuatu. Kau pernah mengajakku untuk berbicara sesuatu, namun itu terlupakan. Apa benar aku dan kau lupa? Karena perjalanan kita.

Sabtu, 10 Juni 2017

{Artikel} Saatnya Menggapai Kejayaan Islam

Saatnya Menggapai Kejayaan Islam 

http://surabaya.tribunnews.com/2017/06/09/saatnya-menggapai-kejayaan-islam

Reportase Ryan Pramana Putra
Mahasiswa S1 Departemen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
(Dimuat di Citizen Reporter Harian Surya edisi 10 Juni 2017)

SETIAP muslim pasti memiliki cara sendiri untuk menunggu waktu berbuka puasa yang pertama kali. Seperti yang dilakukan jamaah Masjid Manarul Ilmi ITS yang menunggu azan maghrib dengan mengikuti tabligh akbar, Sabtu (27/5/2017).
Mengusung tema Semangat Juang Ramadan Menuju Kejayaan Islam itu disampaikan oleh Ustadz Abdullah Shabab. Sebelum menyampaikan materi, ia berharap para jamaah untuk bersantiasa memohon ampunan dengan melantunkan doa-doa kepada Allah.
“Sebagai umat manusia yang unggul, tak boleh disamakan dengan umat manusia yang lain, karena kita umat Rasulullah dan mengharapkan ridho dari Allah,” tutur awal Guru Besar Teknik Mesin ITS itu.
Pada dasarnya, setiap manusia itu sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanya kualitas iman dan takwa. Jika di hadapan sesama manusia, kita semua berbeda. Misalnya status sebagai mahasiswa, lantas apakah sama dengan politikus? Tentu berbeda. Dari strata, latar belakang, dan ilmu juga berbeda.
Siapa yang bisa mengatakan kita lebih baik? Bukan manusia ataupun malaikat. Tetapi hanya Allah yang bisa menjawabnya. Jangan sampai manusia membanggakan dirinya sendiri karena merasa paling baik!
Pepatah mengatakan, sekelompok singa yang dipimpin seekor kambing akan kalah dengan sekelompok kambing yang dipimpin seekor singa!
Pepatah yang bermakna, bahwa yang paling berpengaruh menentukan kejayaan Islam adalah seorang pemimpin.
Pepatah yang sempat disanggah mahasiswa, apakah pemimpin yang tak becus harus dilengserkan?
Ustadz Abdullah Shahab menjawab, yang menentukan seorang pemimpin adalah kita sendiri. Hati-hati memilih pemimpin. Jika pemimpin menyalahgunakan amanah, maka kita yang salah karena telah memercayai pemimpin tersebut.
Sebelum mengakhiri tausiyah, Ustadz Abdullah Shahab berpesan kepada seluruh jamaah untuk mencapai kejayaan Islam di bulan suci ini, dimulai dengan membenahi diri sendiri dan jangan berpikiran bahwa kita yang paling baik di antara manusia yang lain.

Rabu, 29 Maret 2017

{Artikel} Ogah Hanya jadi Mahasiswa Saja, Mahasiswa ITS Ini Belajar menjadi Bos

Ogah Hanya jadi Mahasiswa Saja, Mahasiswa ITS Ini Belajar menjadi Bos



http://surabaya.tribunnews.com/2017/03/28/ogah-hanya-jadi-mahasiswa-saja-mahasiswa-its-ini-belajar-menjadi-bos

Reportase Ryan Pramana Putra
Mahasiswa Departemen Fisika ITS
(Dimuat di Citizen Reporter Harian Surya edisi 29 Maret 2017)

Setinggi apapun jabatan yang Anda miliki, Anda tetap seorang pegawai. Serendah apapun usaha yang Anda punya, Anda adalah bosnya!
PERNYATAAN pengusaha sukses, Bob Sadino itu menjadi motivasi bagi mahasiswa fisika ITS angkatan 2016 belajar berwirausaha yang diadakan BEM ITS lewat Pasar Malam Minggu ITS atau Pammits, Sabtu (25/3/2017).

Meski kali pertamanya mereka berjualan di kegiatan tersebut, semangat mahasiswa seperti tak ada habis-habisnya. Hal tersebut yang dirasakan Rayhan, mahasiswa fisika ITS angkatan 2016. Menurutnya, selain menjalankan KPP LKMW, dengan berjualan dirinya bisa latihan berbisnis agar ke depannya bisa menjadi pengusaha.

Sudah barang tentu tak ada pengusaha instan. Menjadi pengusaha perlu dilatih sejak mahasiswa. Mengapa? Karena pada usia mahasiswa merupakan masa-masa emas menuju ke dewasa dan sudah sanggup bisa memikirkan ke masa depannya masing-masing.

“Cara kami menarik pembeli dengan cara membanderol harga dagangan dengan nominal uang yang pas, misalnya lima ribu dan sepuluh ribu rupiah,” Rayhan mengungkap jurus pemikat pelanggan yang diterapkannya.

Ia melabeli dagangannya sebagai siomay asli Gresik sehingga embel-embel daerah akan menjadi ciri khas dari produk yang ia dagangkan.

Rayhan menargetkan siomay Gresik dagangannya bisa mendulang untung sebesar seratus ribu rupiah. Jika untungnya lebih banyak dan banyak peminatnya, maka bisnis tersebut akan ia kembangkan lagi.

Menurut Wildan, mahasiswa fisika ITS angkatan 2016, mahasiswa memang harus bisa berwirausaha dengan jualan karena awal masuk fisika mereka hanya tahu teoritis semata. Mengingat ITS menjadi PTN BH, maka mahasiswa fisika ITS angkatan 2016 harus punya motivasi berbisnis.

Tujuannya yakni agar bisa mereka berani mengambil risiko ketika berjualan. Misalnya, meski dalam kondisi hujan, mereka harus berusaha agar dagangan tetap laku terjual.

“Berbisnis itu harus mau susah. Jangan pernah menyerah! Memang awalnya berat, tapi nantinya akan terasa manfaatnya,” tutur Ketua Departemen Perekonomian Himasika ITS tersebut.