Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 April 2021

{Cerpen} Pemburu Takjil

 


Aku melihat bocah polos itu. Menjelang azan magrib, ia berada di tempat yang tidak biasa. Bukan di taman kota yang menjadi tempat warga menunggu waktu berbuka puasa, melainkan jongkok sendirian di pondasi yang nampaknya akan di bangun rumah. Ia tidak gila. Ataupun seorang anak yang biasanya menjadikan pondasi itu tempat bermain gundu. Wajar saja aku mengiranya seperti itu. Dilihat dari cara berpakaiannya saja cukup rapi.

Sepintas aku memandangnya dan pertama kali berjumpa dengannya. Nampaknya enam tahunan usianya. Tapi, sedang apa ia jongkok di situ? Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih bermanfaat? Aku tak tahu.

“Kamu ngapain jongkok di sini?”

“Nunggu adzan maghrib, Mas.”

“Kamu puasa ta?”

“Iya.”

Bocah hebat! Percaya tidak percaya, bocah itu berpuasa. Dilihat dari wajahnya yang lemas dan bibir keringnya, tak diragukan lagi kalau ia menjalankan rukun Islam yang ke-4. Mungkin ia puasa setengah hari, tapi tak apalah yang namanya anak kecil mulai berpuasa itu sudah baik. Aku saja mulai belajar puasa saat usia sepuluh tahun. Benar-benar malu dengannya.

Aku mengajaknya ke masjid yang kebetulan di samping persis pondasi itu. Ia menolak begitu saja. Malu dengan jamaah masjid. Itu yang ia katakan kepadaku. Ah, alasan yang belum bisa diterima. Aku masih bisa memaklumi kepolosannya.

Allahu akbar, Allahu akbar.

Azan magrib telah berkumandang. Kuteguk segelas air mineral yang ada di teras masjid, melepas dahaga puasa seharian ini. Baru sekali tegukan, aku lihat bocah itu sudah tidak ada di pondasi. Mungkin ia pulang. Biasalah, anak kecil kalau waktunya magrib harus ada di rumah. Takutnya diculik makhluk halus; mitos setempat.

Tiang penyangga masjid tak seperti biasanya. Segelas plastik kolak dan tiga potong martabak bersandar di tiang tersebut. Pikirku takjil muadzin masjid yang akan dinikmati setelah mengumandangkan azan. Jadi aku biarkan begitu saja. Itu bukan hakku yang harus aku ambil.

Salat magrib telah usai. Saatku makan bersama dengan jamaah masjid. Iseng melihat takjil di tiang penyangga tadi, tetap masih ada. Sebenarnya, siapa gerangan yang menaruh takjil itu? Kok tidak segera dimakan? Penasaran. Kata ustaz, kalau makanan disia-siakan akan mubazir.

“Pak Haji, itu takjil siapa? Apakah punya muadzin masjid?” Aku bertanya kepada Pak Haji. Kebetulan beliau ada di masjid sekarang. Tak seperti biasanya yang mengisi tausiyah di masjid-masjid lain menjelang waktu berbuka puasa.

“Oh, takjil yang di tiang penyangga itu?”

“Iya, Pak Haji. Kok tidak dimakan ya? Padahal sudah buka puasa.”

“Itu bukan punya muadzin. Tapi punya Mbah Semo.”

Mbah Semo? Sepertinya nama itu sudah tak asing lagi bagiku. Benar, aku pernah mendengar namanya. Ibuku pernah bercerita tentang Mbah Semo yang menghidupi seorang anak kecil. Kedua orang tua anak itu telah bercerai, lalu meninggalkan mereka berdua. Mbah Semo dan cucunya tinggal di desa sebelah yang kebetulan tidak jauh dari masjid.

“Sekarang beliau di mana, Pak Haji?”

“Bentar lagi juga datang.”

Lima menit kemudian, lelaki tua datang di masjid. Apa itu Mbah Semo? Aku belum bisa memastikan. Mengingat aku belum pernah bertemu dengannya. Sekali pun belum pernah. Ia tidak sendiri. Beserta seorang bocah yang menggandeng tangannya. Apa?! Bocah yang digandengnya ternyata bocah yang beberapa menit lalu aku temui di pondasi. Aku tidak menyangka dengan semua hal ini.

Rasa penasaranku semakin menghantui tak terkendali. Aku memberanikan diriku untuk menghampiri mereka berdua. Sedikit malu dan rasa sungkan masih ada kepada mereka. Tak apalah, demi ingin mengetahui sesuatu aku harus berani. Almarhum ayahku pernah berpesan kepadaku sebulan sebelum beliau meninggal; jangan pernah takut kepada siapapun jika tidak memiliki salah.

“Permisi, Mbah. Mbah sedang apa?”

“Maaf, Mas. Mbah saya tuli dan tidak bisa ngomong. Kami berdua mau mengambil takjil yang telah kusiapkan tadi.”

“Oh, takjil ini kamu yang ambil toh?”

“Iya, Mas. Saya mengambilnya untuk Mbahku, Mbah Semo.”

Dugaanku benar. Lelaki tua yang bersama bocah di pondasi tadi ternyata Mbah Semo. Aku tak bisa berkata-kata lagi dengan dua orang yang bisa dibilang sangat memotivasiku. Mbah Semo yang berikhtiar menghidupi cucunya dan cucunya yang seorang bocah menyempatkan mengambil takjil untuk kakeknya.

Air mataku hampir menetes. Terharu. Bocah itu menyempatkan bercerita tentang keluarganya. Ceritanya hampir mirip yang diceritakan oleh ibuku beberapa waktu lalu. Aku pikir ini hanya omongan simpang siur yang belum ada kebenarannya. Namun aku salah. Ini benar ada di kehidupanku.

Kini aku tahu cerita itu. Setiap menjelang berbuka puasa, bocah yang aku temui tadi selalu menunggu azan magrib dengan jongkok di pondasi. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Tanpa malu oleh orang-orang yang melintas di depannya. Termasuk aku. Tidak hanya menunggu azan saja, bocah itu juga menunggu takjil yang dibagikan gratis oleh panitia masjid. Selalu ia lakukan tanpa henti.

Aku kembali terharu. Di bulan yang suci ini, Mbah Semo tidak bisa mencari nafkah lagi. Bukan karena usianya yang semakin lanjut atau kelebihan yang ia miliki, tapi tidak ada yang bisa ia jual lagi. Di luar puasa, Mbah Semo berjualan es potong di sekolahan. Bulan ini ia tidak bisa menafkahi cucunya.

 Bukankah bulan ini adalah bulan yang penuh rahmat? Tentu benar. Tidak bagi Mbah Semo. Rahmat tersebut hanya dari Allah ta’ala, bukan rahmat yang bisa membuatnya makan setiap hari. Mbah Semo bersyukur. Masih ada cucunya yang memberinya takjil untuk berbuka. Terkadang ia merasa minder, karena bisa dibilang peminta-minta takjil. Tapi, harus bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa ia lakukan. Ada juga yang menyebut cucunya sebagai pemburu takjil. Tiap hari selalu di masjid demi mendapatkan takjil gratis. Namun itu tak membuat Mbah Semo dan cucunya putus asa menjalani puasa. [ ]

Ramadhan, 1440 H


Tentang Penulis:

RYAN P. PUTRA. Penulis kelahiran Surabaya, 29 November 1997. Mulai menulis sejak duduk di bangku kelas 9 SMP. Ia menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Ryan termasuk anak muda yang gigih mengikuti lomba, hingga meraih beberapa prestasi, di antaranya;  Juara 3 Lomba Karya Tulis Islami yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Negeri 2 Surabaya Tingkat Jawa Timur pada tahun 2015, Juara 3 Lomba Esai Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2016, dan Juara Terfavorit Lomba Taujih Visual/Typografi yang diselenggakaran oleh JMMI ITS diikuti oleh seluruh mahasiswa ITS angkatan 2016 pada tahun 2017, dll. Prestasi terakhirnya yakni Juara 2 Essay Competition pada Al-Qur’an Poem & Essay Competition (APEC) Chemistry Islamic Studies (CIS) di Departemen Kimia ITS tahun 2018. Selain itu, pada Maret 2016, ia merampungkan buku tunggalnya berjudul “Kelinci Percobaan K-13” yang diterbitkan oleh FAM Publishing.

Senin, 23 Juli 2018

{Cerpen} Aisyah; Gadis Berkerudung Merah

Aisyah; Gadis Berkerudung Merah

Dimuat di dapurpena.com edisi Senin, 23 Juli 2018

(Sumber; http://katacholis.blogspot.com/gadis berkerudung merah)


*Oleh: Ryan P. Putra

Satu setengah tahun aku meninggalkan semua orang yang ada di sekitarku. Bukan karena untuk pergi jauh dari mereka, namun tuk melanjutkan studi  di salah satu kampus ternama di Kota Pahlawan, Surabaya.  Awal mula nya, hal itu sulit kulakukan mengingat untuk pergi ke sana yang ditempuh menggunakan kapal yang seminggu lamanya. Biaya yang seadanya tak cukup untuk membeli tiket pesawat.

Aku merantau meninggalkan desaku karena jurusan yang aku pilih hanya ada di Surabaya. Mungkin aku terlalu egois, tetapi mau bagaimana lagi kalau impianku hanya ada di satu-satunya jurusan itu? Almarhum ayahku pernah berpesan bahwa aku harus meraih mimpiku meskipun letaknya setinggi langit.

Dunia perkuliahan tak seseram yang kubayangkan. Setiap usai kelas, aku tak pernah lupa ke gazebo jurusan untuk menengadahkan diri di bawah lembutnya awan sembari kicauan burung yang merdu. Aku tidak sendiri. Di gazebo yang lain aku selalu melihat sosok gadis yang memakai kerudung merah. Aku tak mengerti ia siapa. Ia selalu berdiam diri di tempat yang selalu sama.

Hari demi hari hingga minggu demi minggu, ia selalu di tempat itu. Aku selalu memandangnya dari kejauhan, tetapi aku tak melihat apa yang ia lakukan. Aku hanya melihat ia selalu memakai kerudung dengan warna sama, kerudung merah.

Mungkinkah ia penggemar warna merah? Atau ia memang pemberani? Aku bertanya-tanya di dalam hatiku tentang gadis misterius itu.

Sebenarnya, ada apa dengan kerudung merah? Pernah terlintas di pikiranku bahwa kerudung yang ia pakai melambangkan ciri khas dari daerah kelahirannya. Tetapi, apakah ada daerah yang aku maksud? Entahlah.

Satu-satunya cara yang bisa menjawab pertanyaanku hanyalah ia sendiri. Aku harus berani menghampirinya dan menanyakan itu semua. Rasa penasaranku tidak mungkin hilang kecuali ia buka mulut. Aku harus mencari tahu.

Tepat pukul 9 pagi, kelas kuliah pagiku selesai. Tanpa berpikir panjang lagi, aku harus menemui gadis berkerudung merah. Aku menahan rasa laparku dan bergegas menemuinya di gazebo yang biasanya ia menyendiri. Aku tak ingin membuang waktu lagi demi secuwil kisah darinya.

Sekitar lima puluh meter aku akan tiba di gazebo, aku tak melihat seorang pun di sana. Kuhentikan langkahku dan sejenak bertanya-tanya, dimanakah gadis berkerudung merah itu? Apakah hari ini ia tidak kuliah? Atau ia sedang di kantin? Rasanya tidak mungkin ia di kantin. Aku melihatnya dari kejauhan nampaknya ia tidak menyukai hal-hal yang ramai.

Sebagai lelaki, aku harus sabar menunggunya. Aku menunggunya di gazebo. Menit demi menit, kuhabiskan waktuku di gazebo itu.
Menunggunya sambil membaca novel terjemahan tak terasa waktu menungguku dua jam. Waktu bisa dibilang lama, juga bisa dibilang sekejap jika dihabiskan dengan membaca buku, menurutku.

Hari menjelang siang, matahari pun semakin berkuasa memancarkan sinarnya. Gadis berkerudung merah yang kunanti tak kunjung datang. Mungkin benar hari ini ia tidak ada kuliah. Meski sedikit kecewa, aku beranjak pergi meninggalkan gazebo. Aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh menyerah sedikitpun.

Hanya beberapa langkah dari gazebo, aku ditabrak oleh seseorang. Aku lihat wajahnya, ternyata ia seseorang yang selama ini aku cari.
Aisyah? Mengapa kau ada di sini? Apa yang sedang kau lakukan? tanyaku kepada seseorang yang menabrakku.

Aku berkuliah di sini. Sama seperti denganmu.
Ia adalah Aisyah, teman SMAku yang kebetulan satu kampus denganku. Aku terkejut melihatnya, karena kerudung yang ia pakai berwarna merah.

Apakah ia gadis berkerudung merah yang biasanya menyendiri di gazebo?
Apakah kau selalu memakai kerudung merah? tanyaku heran.
Iya. Semua kerudungku berwarna merah dan selalu aku pakai kapanpun dan dimanapun aku berada. Mengapa kau tampak heran?

Aku menceritakan semua yang aku lakukan tentang rasa penasaranku kepada Aisyah. Mulai dari aku milhatnya dari kejauhan hingga bertekad untuk menemuinya. Memang sedikit malu dan canggung, tapi itu semua demi jawaban atas semua rasa penasaranku. Syukurnya, Aisyah menanggapi positif tanpa tersinggung atas semua ceritaku.

Aku memakai kerudung merah bukan karena aku pecinta warna merah dan sosok yang berani. Kerudung merah yang aku pakai akan selalu mengingatkanku kepada sebuah bunga mawar yang indah. Aku pernah menanam bunga mawar di halaman rumahku dan mawar itu selalu membuat bahagia tetangga sekitar. Kini, mawar itu telah mati karena diserang hama yang aku tak tahu itu hama jenis apa. Agar aku tidak larut dalam kesedihanku, maka kerudung merah ini sebagai penghiburku, singkat cerita dari Aisyah.


Mendengar cerita itu, aku sedikit heran dan aneh. Aisyah yang kukenal saat SMA hanya biasa-biasa saja, kini begitu mencintai bunga mawar tanamannya. Tapi itu tidak menjadi masalah buatku. Yang lebih penting menurutku, kini aku tahu siapa sosok gadis berkerudung merah yang membuatku penasaran. Meski ceritanya membuatku sedikit meneteskan air mata.


*/Penulis adalah mahasiswa Fisika ITS, pernah menjadi finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI)  tahun 2015.  Kini aktif di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan Taktik Community.

Editor : Saathir Mustaqi
m

Kamis, 08 Desember 2016

{Cerpen} Tongkat Kayu Kakek



Tongkat Kayu Kakek
Ryan P. Putra
 (Dimuat di Flores Sastra Edisi 8 Desember 2016)
 
Tujuh tahun Setya hidup bersama kakeknya di sebuah gubuk yang jauh dari kata sederhana. Kedua orang tuanya telah berpisah, membuat gadis berusia sebelas tahun menghabiskan waktu bersama kakeknya. Mengingat usia kakeknya yang sangat senja, ia tak bersekolah lagi. Setya tak bisa meninggalkan kakeknya dan kakeknya juga tak bisa ditinggal oleh Setya dalam waktu yang lama.
            Ditemani panasnya terik matahari, Setya mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke tetangga di sekitar gubuknya. Awalnya, kakek tak merestui Setya untuk mencari kayu bakar di hutan, karena terlalu berbahaya untuk cucunya. Tapi, Setya harus mencari kayu bakar demi mencukupi kebutuhan hidup mereka tiap hari. Mengingat kakeknya sudah tak kuat untuk melangkahkan kaki ke hutan.
            Bermodal sebilah parang dari kakeknya, Setya menitik asa setitik demi setitik. Restu dari kakeknya, membuat Setya bersemangat untuk mencari kayu bakar di hutan. Rintihan keringat membasahi dahinya, di setiap ia membilah-bilah batang pohon menjadi kayu bakar yang siap dijual. Kayu-kayu yang telah ia belah menjadi ukuran yang lebih kecil, diikatnya dengan batang rotan yang ia temukan di hutan itu. Ikatan kayu bakar sudah banyak. Ia bawa pulang dengan cara menggendongnya. Layaknya seorang bayi yang ditimang oleh ibunya.
            “Kakek, Setya pulang.”
            “Silahkan masuk, Cu!”
            “Kakek sedang apa sekarang?“
            “Enggak, Cu. Kakek hanya membilah-bilah batang bambu ini.”
            “Buat apa toh, Kek? Sudah, Kakek nggak perlu bilah-bilah batang bambu ini. Setya sudah membawa banyak kayu bakar untuk dijual besok.”
            Ungkapan Setya membuat kakek berhenti membilah bambu dan hanya senyum sebagai balasannya serta membuat kakek menjadi sedih. Tak tahu penyebabnya yang membuatnya bersedih. Untung saja, sosok yang setia bersama Setya ini hanya bersedih di dalam hati. Sehingga Setya tak tahu perasaan kakek sekarang seperti apa. Ia melihat kakek tersenyum-senyum saja, tetapi di dalam hati kakek sebenarnya bersedih.
            Merdunya suara burung hantu yang terdengar jelas di gubuk mereka, pertanda hari mulai malam. Malam itu, kakek menyempatkan diri untuk menyerut sebatang bambu yang siang tadi telah ia bilah-bilah. Tak tahu apa maksud kakek ini. Bisa jadi meringankan beban cucunya yang setiap hari mencari kayu bakar di hutan. Tak hanya mencari kayu bakar saja, tetapi masih memotong-motong lagi batang yang berukuran besar menjadi kayu bakar yang lebih kecil lagi. Dan tak hanya itu saja, Setya harus membawa kayu-kayu tersebut dengan jumlah yang tak sedikit ke rumahnya serta jaraknya yang cukup jauh.
            Gesekan antara batang bambu dengan sebilah pisau kecil kakek, menciptakan suara yang tak asing bagi Setya. Mengingat usia kakek yang semakin lanjut, tak memungkinkan mengasah pisau tersebut kembali. Kakek hanya bisa bersabar untuk menyerut bambu tersebut, karena pisaunya sudah tak tajam lagi. Meskipun suara tersebut terdengar cukup halus, membuat Setya ingin menemui pusat suara itu.
            “Kakek! Kakek ngapain malam-malam menyerut bambu itu? Tadi siang sudah dibilah-bilah, sekarang diseruti. Buat apa sih, Kek?”
            “Enggak, Cu! Kakek tak bisa tidur sekarang. Jadi, Kakek duduk-duduk saja.”  “Aduh Kakek, masih sempatnya bilang duduk-duduk. Sudah jelas Kakek masih bersama bambu itu sejak siang tadi. Sudahlah Kek, mari kita tidur!”
            Kakek pun berjalan menuju tempat tidurnya. Bambu yang ia serut tadi, ia tinggal begitu saja. Sebenarnya ia tak sanggup meninggalkan bambu tersebut, tetapi ia tak ingin membuat cucunya kecewa. Saran dari cucunya sangat bagus. Ia harus memenuhi saran tersebut. Mungkin Setya belum tahu apa maksud kakek dengan bambu tersebut.
            Sang mentari kembali menyapa mereka. Di pagi yang cerah ini, Setya menjual kayu-kayu bakarnya yang kemarin ia cari di hutan kepada tetangga di sekitar gubuknya. Berkeliling kesana-kemari, menuju pintu ke pintu rumah tetangganya, demi sebutir uang untuk membeli segenggam beras dan seiris lauk.
Upah sebesar 5000 perak, ia dapat sepanjang pagi ini. Hasil ini memang tak sebanding dengan jerih payahnya. Setya harus berjalan menyusuri hutan demi mendapatkan kayu-kayu di siang hari yang panas, membawa kayu-kayu tersebut dengan cara menggendongnya, sangat tak pantas dengan upah sekecil ini. Ia ingin mendapat uang lebih dari jerih payahnya selama ini, tetapi sangat sulit sekali baginya menjual kayu bakar tersebut dengan harga yang cukup mahal. Mengingat tetangga di sekitar gubuknya telah memakai kompor gas, sehingga tak banyak yang membeli kayu bakar Setya untuk dijadikan bahan bakar memasak. Betapa sengsara nasibnya. Tapi, semua ini tak membuatnya untuk berputus asa dan menyerah begitu saja.
            Saat Setya menjajakan kayu bakarnya, kakek masih tetap menyerut bambu yang semenjak kemarin ia potong, bilah-bilah, hingga ia serut. Apa yang dilakukan oleh kakek terhadap bambu tersebut? Apa mungkin kakek membantu Setya untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan bambu tersebut? Ini masih menjadi misteri tersendiri bagi Setya.
            Hanya dengan waktu empat jam menjajakan kayu bakar, Setya kembali ke gubuk untuk beristirahat. Siang ini, Setya bersyukur sekali. Karena dagangannya ludes terjual.      “Lihat, Kek! Kayu bakar Setya sudah ludes terjual. Uangnya Setya belikan beras sama tempe untuk kita masak sekarang.”
            “Alhamdulillah, Cu. Sisanya, jangan lupa untuk ditabung ya!”
            “Pasti dong, Kek! Ngomong-ngomong, Kakek ngapain dengan bambu itu sih, Kek? Sejak kemarin, Kakek masih dengan bambu itu.”
            “Enggak apa-apa, Cu!”
            “Sudah, Kek. Jangan sama bambu itu! Sekarang kita masak beras dan tempe ini. Untuk makan kita sekarang.”
            “Baik, Cu. Tapi, bantu Kakek berdiri. Kakek sudah tak kuat lagi untuk menopang badan Kakek.”
            “Baik, Kek. Setya akan membantu Kakek berjalan.”
***
Seminggu kemudian,
            Setya menuju ke hutan di mana ia mencari kayu bakar. Kali ini, ia tak mencari kayu bakar lagi. Melainkan mencari sepotong kayu sebagai alat bantu berjalan kakeknya. Ia berjalan kesana-kemari, menelusuri hutan untuk mendapat sepotong kayu sebagai tongkat berjalan kakeknya. Hingga pada akhirnya, Setya mendapat kayu yang ia harapkan. Tapi, kayu tersebut masih terlalu besar. Sehingga ia harus memotongnya lebih kecil lagi dan menyerutnya agar terasa halus di tangan kakeknya nanti.
            Mengetahui Setya mencari tongkat kayu di hutan, kakek tak ingin merepotkan cucunya. Kakek mengambil tongkat bambu yang sejak kemarin ia serut di bawah lemarinya. Kakek harus merangkak dan menengkurapkan tubuhnya demi meraih tongkat bambu itu. Ia sudah tak bisa berjalan lagi, berdiri pun tak kuat.
            Di hutan, Setya telah selesai membuat tongkat kayu untuk kakeknya. Setya langsung berlari menuju ke gubuknya untuk memberikan tongkat kayu tersebut kepada kakeknya. Sesampainya di gubuk, ia tak mendengar suara sedikit pun dari dalam gubuknya. Ia mengucapkan salam berkali-kali, namun tak ada yang menjawab. Akhirnya, ia memanggil-manggil kakeknya, namun kakeknya tak menjawab. Mengetahui hal ini, ia beristirahat sejenak di depan gubuknya dan ia berpikiran bahwa mungkin kakeknya masih di kamar mandi belakang gubuknya.
            Hampir tiga puluh menit Setya beristirahat. Ia pun masuk ke dalam gubuknya untuk memberikan tongkat kayu yang ia dapat untuk kakeknya. Ia memanggil-manggil kakeknya kembali, namun ia tak mendengar respon dari kakeknya. Ia pun mencari kakeknya di kamar mandi belakang gubuknya, namun kakek tak ada di tempat.
Hingga suatu ketika, Setya menuju ke kamarnya. Di kamarnya tersebut, ia melihat kakeknya tergeletak lemas di lantai kamarnya. Setya langsung berlari menuju kakek untuk membangunkan kakeknya yang mungkin saja saat itu tertidur di lantai. Namun, kakek tak terbangun. Ia semakin gelisah melihat kakeknya yang tak terbangun. Saat itu, Setya hanya bisa meronta-ronta dan menangis.
            “Kakek! Bangun, Kek! Jangan tinggalkan Setya sendirian! Setya sudah tak punya apa-apa lagi kecuali Kakek. Bangun, Kek…..!!!”
            Saat Setya berusaha membangunkan kakeknya, ia melihat di samping kakeknya terdapat sebuah tongkat dari bambu. Ia tak tahu dari mana tongkat bambu berasal. Karena saat itu Setya hanya bisa menangis dan menangis di samping kakeknya.
***
Sebulan kemudian,
            Setya telah ikhlas ditinggal oleh kakek. Ketika Setya membersihkan tempat tidur kakeknya, ia menemukan selembar kertas di bawah kasur kakeknya. Nampaknya, selembar kertas itu adalah surat untuk Setya yang ditulis oleh kakeknya sebelum meninggal.
            Setya cucu kakek yang sangat baik. Kakek sangat menghargai usaha Setya untuk mencukupi kebutuhan hidup kita. Setya memang cucu kakek yang paling hebat. Setya memang cucu kakek yang paling kuat. Setya, maafkan kakek yang selama ini melukai hatimu, merepotkanmu, bahkan membohongimu. Semenjak Setya mengetahui kakek yang sedang sibuk dengan bambu tersebut, kakek hanya bisa bilang tak apa-apa ke Setya. Karena kakek tak ingin menambah beban Setya.
            Setya, saat ada hari untuk kita berpisah, maka jangan pernah untuk bersedih. Dan jika suatu saat habis masa kakek, maka jangan pernah untuk menangisinya.
            Setya, yakinlah bahwa kakek tak akan pergi jauh dari Setya. Hanya saja, raga kakek yang tak bersama Setya lagi. Tapi, sukma dan ruh kakek akan selalu bersama Setya di mana pun Setya berada. Kakek akan selalu ada di pikiran Setya hingga turun ke hati Setya. Kakek tak akan pernah meninggalkan Setya, karena kakek sangat sayang dengan Setya.
Setya, tolong jaga dan rawatlah tongkat bambu yang kakek buat. Tolong letakkan di dinding gubuk kita. Dan tolong letakkan berdampingan dengan tongkat kayu Setya yang kakek belum tahu wujudnya. Kakek minta tolong seperti ini, agar Setya selalu ingat kepada kakek. Satu lagi Setya, tolong jangan taruh di dinding kamar Setya. Agar Setya tak selalu menangisi kakek setiap Setya akan tidur.
Setya cucu kakek, hapuslah air mata yang mengalir di pipi Setya sekarang. Karena kakek tak sanggup melihat cucu kakek bersedih dan menangis. Kakek yakin bahwa Setya adalah anak yang hebat dan kuat. Sehingga Setya tak pantas untuk seperti ini.
Setya. Bangkitlah, Cu!
Cucu kakek yang paling kakek cintai.
Membaca pesan tersebut, membuat Setya lebih tegar untuk menjalani hidupnya. Walaupun Setya hidup sebatang kara tanpa ada yang menemaninya dan ia belum sempat memberikan tongkat kayu yang ia cari serta ia buat dengan tangan mungilnya di hutan untuk kakek. [ ]

Surabaya, 6 Nopember 2016

Biodata:
RYAN P. PUTRA. Penulis asal Surabaya. Menulis “Kelinci Percobaan K-13” (FAM Publishing, 2016). Mahasiswa S1 Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Senin, 21 November 2016

{Cerpen} Tetesan Air Hujan dan Sepasang Sandal di Tangan Sekar

Tetesan Air Hujan dan Sepasang Sandal di Tangan Sekar

Ryan P. Putra
(Dimuat di Flores Sastra edisi 21 Nopember 2016)
 http://floressastra.com/2016/11/21/tetesan-air-hujan-dan-sepasang-sandal-di-tangan-sekar-cerpen-ryan-p-putra/

             Sekar menanti kehadiran seorang lelaki di tepi sungai.
            Siapa lagi jika bukan pujaan hati Sekar. Mereka berjanji bertemu di tempat itu, karena sekitar dua tahun lalu kisah cinta mereka berawal dari tepi sungai yang ada di taman tengah kota. Cukup unik dan tidak disangka-sangka awal pertemuan mereka. Ketika Sekar menemukan sebuah sandal di tepi sungai, tiba-tiba datang seorang lelaki yang meminta sandal itu.
            “Permisi, Mbak. Itu sandalku.”
            “Iyakah, Mas? Kok bisa ada di sini ya?”
            “Iya, Mbak. Tadi dilempar sama temanku.”
            Pikir Sekar, lelaki itu bodoh. Bagaimana tidak bodoh, sandal yang di kaki bisa terlempar sampai di tepi sungai. Sambil memberikan sandal itu, sekejap Sekar memandang bola matanya. Tidak menunjukkan sedikit pun kalau lelaki itu bodoh. Bisa jadi korban keisengan teman-temannya. Untung saja sandal itu tidak sampai tercebur di sungai. Andai sandal itu tercebur, mungkin kisah cinta Sekar dan lelaki itu tidak terjadi.
            Mereka berkenalan dan sempat bertukar nomor ponsel. Tradisi itu sudah mendarah daging di zaman modern seperti sekarang. Bahkan ada yang menganggap bertukar nomor ponsel ketika pertama kali bertemu merupakan hal yang wajib. Hal aneh tapi nyata. Mengingat Sekar masih meneliti ekosistem di taman itu untuk tugas kuliahnya dan lelaki itu ditunggu oleh teman-temannya, mereka berpisah.
            Tidak sampai dua jam selepas perpisahan mereka, lelaki itu mengirim pesan singkat kepada Sekar. Wahyu, nama lelaki itu. Bermula dari itu, mereka menjadi sepasang kekasih sejak sepuluh tahun bersahabat. Tidak terduka sama sekali mereka bisa seserius ini.
            Sekar masih menanti kehadiran seorang lelaki di tepi sungai.
            Ia tidak tahu di mana kekasihnya sekarang. Mungkin terjebak macet atau bisa jadi lupa acara pertemuan ini. Rasanya tidak mungkin jika Wahyu lupa akan hal itu. Semenjak ia kenal hingga menikah dengan Sekar, ia tidak pernah melupakan hal sekecil apapun. Jarum yang biasanya digunakan untuk menjahit celana, ia masih ingat betul tempatnya. Walau sudah beberapa minggu tidak digunakan lagi.
            “Di mana ya, Wahyu? Kok gak datang-datang juga?” pikir Sekar, bertanya-tanya di dalam hatinya. Sekar semakin gelisah menunggu kekasihnya yang belum datang. Ponsel di tasnya, ia keluarkan dan menelepon Sekar. Ponsel Wahyu aktif, namun tidak dijawab telepon Sekar.
            “Ah, kemana sih Sekar? Dihubungi kok gak diangkat-angkat sih?”
            Hampir setengah jam Sekar menunggu. Ia mondar-mandir di sekitar tepi sungai, melihat jarum jam di tangannya yang perlahan pergi meninggalkan waktu pertemuan mereka. Tidak lupa ia menelepon Wahyu berkali-kali, namun tetap tidak dijawab. Ia semakin khawatir seiring datangnya mendung yang semakin gelap. Nampaknya akan hujan deras dan pertemuan mereka bisa batal.
            Perlahan air dari langit turun ke bumi, setetes demi setetes. Itu bukan hambatan Sekar untuk menanti Wahyu, kekasihnya tiada tara. Detik demi detik, hingga menit demi menit, tetesan air hujan itu kian menderas dan kekasihnya tidak kunjung datang. Mengatasi tetesan itu ia gunakan tangannya sebagai pengganti payung untuk sementara waktu.
            Gerimis menjadi hujan, membuat Sekar menunda pertemuannya sementara waktu. Ia harus berteduh di teras toko makanan ringan yang tidak jauh dari tepi sungai. Ia berlari menuju tempat itu. Tetesan air hujan tetap mengguyur tangannya dan tidak bisa melindungi tubuh Sekar seutuhnya. Hingga membasahi sebuah kotak kado yang ia persembahkan untuk Wahyu.
            Kotak kado yang terbungkus kertas warna merah hati sebagai bukti kasih sayang Sekar kepada Wahyu, menjadi basah kuyup begitu saja. Sekar bersedih. Kekasihnya tidak datang dan kadonya pun rusak. Ia semakin bersedih ketika ponselnya berdering dan mendapat kabar kalau Wahyu kecelakaan mobil. Awalnya Sekar tidak percaya dengan hal itu. Namun peristiwa itu diperkuat saat nomor ponsel yang diterimanya adalah nomor dari ponselnya Wahyu. Polisi yang menelepon Sekar, mengabarkan bahwa Saudara Wahyu saat ini dalam kondisi kritis dan sedang ditangani oleh dokter di rumah sakit.
            Sontak Sekar kaget dan mencari kebenaran berita itu sekarang juga. Ia berlari menuju rumah sakit tanpa memperkirakan terlebih dahulu. Hanya tangan dengan kado itu ia taruh di kepalanya untuk menutupi dari derasnya tetasan air hujan.
            Suasana rumah sakit menjadi gaduh ketika Sekar tiba dan mencari ruangannya Wahyu. Baju Sekar yang basah kuyup, membuat pengunjung rumah sakit marah. Mereka pikir Sekar orang gila yang hujan-hujan kemudian berteduh di rumah sakit. Kemarahan mereka teredam ketika seorang satpam mencoba menenangkan mereka yang tidak bisa mengontrol emosinya.
            Satpam itu mengantarkan Sekar ke ruangan Wahyu, dan Sekar pun bertemu dengan dokter yang kebetulan keluar dari ruangan itu.
            “Bagaimana kondisinya, Dok?”
            “Mohon maaf. Nyawanya tak bisa tertolong lagi.”
            “Apa, Dok?!”
            “Ia meninggal. Saya turut berbela sungkawa yang sebesar-besarnya.”
            Sekar tidak percaya dengan pernyataan dokter. Pintu ruangan Wahyu dirawat, ia dobrak begitu saja. Ia melihat selembar kain putih menutupi tubuh seseorang, ternyata benar itu tubuh Wahyu yang telah tewas pasca kecelakaan itu. Tubuh Sekar yang tadinya basah kuyup, semakin basah karena air matanya tidak bisa terbendung lagi. Melihat kekasihnya yang selama ini ia sayangi terlentang tidak berdaya di kasur ruangan itu.
            Sekar membuka kain putih di wajah Wahyu.
            “Sayang, aku mohon kau bangun. Kau tak lihat apa yang aku bawa sekarang? Ini kenangan kita yang dulu. Kenangan saat awal kita bertemu.”
            Tidak ada yang bisa diucapkan Sekar lagi. Ia hanya menunjukkan kado sepasang sandal tanpa kertas pembungkusnya. Kertas itu basah, kemudian rapuh dimakan air hujan selepas perjuangannya menuju rumah sakit.
            Kini hanya sepasang sandal di tangan Sekar yang menjadi saksi kenangan terakhirnya bersama Wahyu. Dan tidak mungkin bisa terulang kembali hingga Sekar menjemput Wahyu ke alam perdamaian. [ ]

Surabaya, 19 Nopember 2016



Biodata:
RYAN P. PUTRA. Mahasiswa S1 Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember.